9. 수필/Essay(Bagus Sulistio)

작성자김영수|작성시간23.01.28|조회수61 목록 댓글 0

 

파이즈 아딧띠안 아흐야르(Faiz Adittian Ahyar)

문학 작품에 나타난 평범성에 대하여

 

                                                                           

                                                                                                 바구스 술리스띠오(Bagus Sulistio)

 

     문학 작가에 있어 전문성은 필수불가결한 조건은 아니라고 본다. 문학 작가가 갖고 있는 특권은 은행 직원보다, 회사의 임원보다, 심지어는 농부와 비교하여 뛰어난 점이 없다 할 수 있다. 매월 확실하게 보장되는 수입을 얻을 수 있는 문학 작가는 극히 드물다고 할 수 있다. 대중 매체에서 글을 청탁 받아 게재하여 받는 원고료에 매달리고 있는 문학 작가도 마찬가지라 할 수 있다.  

 

아직도 세미나에 초청되어 발표할 수 있는 기회를 갖는 문학 작가는 그나마 운이 좋은 편이라 할 수 있다. 마찬가지로 그의 책이 베스트 셀러에 속해 책이 잘 팔리는 작가도 운 좋은 작가 범주에 속한다고 할 수 있다. 이름 뿐인 세미나에 참석하지 않아도 순수 문학을 추구하면서 그의 책이 베스트 셀러가 되어 부유한 삶을 사는 작가를 제외하고는 대다수 작가들은 중산층 또는 그 이하의 삶을 살고 있다 할 수 있다.  

 

만약 위에 언급한 내용이 사실이라면 작가들 삶의 특징이 가난이라고 정의할 수 있다 본다. 그럼에도 불구하고 아직도 많은 사람들이 스스로를 문학 작가라고 여기고 있다. 기업인, 공무원 아니면 그와 유사한 직업을 갖고 있는 사람들이 작가로의 변신에 있어 그들은 대단한 자부심과 자긍심을 느끼는 것을 볼 수 있다.  

 

사실 어떤 사람이 한 사람의 문학 작가로 변신하는 것을 금지할 수는 없다. 더구나 그가 이미 문학 작품을 집필한다면 그는 작가로 자리매김할 수 있는 권한이 있다고 본다. 따라서 다른 작가로부터 한 사람의 작가로 받아 드려지고 인정되는 문제는 별도의 문제라고 할 수 있다.  

 

사실 한 사람이 작가라고 자칭하지 않으면서 그가 계속해서 문학 작품을 창작하고 발표한다면 우리들은 그를 작가라고 인정할 수 밖에 없다. 그 작가가 계속해서 질적으로나 양적으로 의미 있는 작품을 창작한다면 사람들은 쉽게 그를 문학 작가라고 부른다. 그러한 맥락에서 우리들은 파이즈 아딧띠안 아흐야르(Faiz Adittian Ahyar)를 한 사람의 작가라고 부를 수 있다.

 

파이즈 아딧띠안 아흐야르는 반유마스(Banyumas) 출신의 젊은 작가이다. 그는 시, 단편 등 다양한 문학 작품을 창작하고 있으며 나름의 의미를 내포하고 있는 그의 작품을 우리들은 여러 매체에서 만날 수 있다.

 

파이즈 아딧띠안 아흐야르 시 속의 평범한 가치

파이즈는 시작(詩作)으로부터 그의 문학 세계를 열었다. 그의 몇몇 시 작품은 대중 매체에 이미 소개가 되었다. 그의 많은 시 작품의 배경은 평범하게 사는 삶을 그리고 있다. 그 예로서 그의 시 “국회의원 선거를 끝내고”(Setelah Pemilu)의 두번째 연을 들 수 있다.

....

길은 그렇게 감정에 싸여 웅덩이를 슬퍼한다

강은 그렇게 바쁘게 홍수를 가늠한다

사람들은 밀려나고  

판자집은 만원이다

연기는 피여 오르고

허리띠는 거의 찢어졌다

그리고 한 쌍의 오리는

일곱개의 알을 낳은 후 r

그것을 깨지 못하고 있다

...

세상의 특별함과 삶의 단순함이 그의 시 작품 각 행마다 그려져 있다. 삶의 부유함과 화려함을 나타내는 시어는 그의 작품 속에서는 없다. 부유함에 밀려 주변부로 밀려난 사람들의 상황이 각 행마다 절절하게 들어가 있다. 파이즈는 우리들이 단순한 세상을 바라보기를 원하고 있는 것처럼 보인다. 꽉 들어찬 판자집과 거의 찢어질 것 같은 허리띠는 범신론적 신비주의를 바탕으로 한 인간들의 현상을 나타내고 있다고 본다. 한 인간이 단순한 삶에 의지하는 범신론적 신비주의라고 할 수 있다.  

 

그의 시 “시골 사람들”(Orang-orang Desa)에서 그는 명료하면서 평범, 단순한 삶을 그리고 있다. 그러한 상황은 그의 시를 읽고 난 후 정확히 느낄 수 있다.  

....

뒤 마당에 싱꽁 밭과 함께 있는 집들

대나무 울타리를 두른 집들

집 앞 베란다에 비둘기가 깃들어 있는 집들

도시 사람들 집과는 다르다

거대하게 높고

지붕도 없고

텃밭도 없고

울타리도, 앞 베란다에 비둘기 집도 없다

물론 우리들은 시골 사람들이다

그렇게 검소하게 산다

그렇기에 우리들은 큰 돈 들이지 않고

집을 짓는다

 

빠시르 루후르(Pasir Luhur), 2015년 8월

 

ㅇ 싱꽁(singkong) : 고구마와 유사한 열대 작물

 

검소함은 멀리 할 불행이라고 할 수 없다. 그러한 검소함 속에 우리들이 취해야 할 긍정적인 면이 있다고 본다. 시 “시골 사람들”에서 검소함의 긍정적인 면을 한 줄로 나타내고 있다. 즉, 많은 돈을 들이지 않아도 집을 지을 수 있다는 점이 바로 그것이다.

 

파이즈 아딧띠안 아흐야르의 시를 읽고 그러한 검소함이 신(神)으로부터 받은 것이 아님을 알 수 있다. 그 검소함은 인간이 선택한 것으로 시인은 말하고 있다. 모든 사람들은 검소한 삶을 선택할 권리가 있다고 본다. 그러한 삶을 통해 대나무로 울타리를 엮은 집을 짓고 이웃과 어울려 살던지 아니면 몇 층 높이의 집을 짓고 이웃과 단절하고 살던지 그것은 각자의 선택이며 권리라고 생각한다.

 

파이즈 아딧띠안 아흐야르의 단편에 나타난 검소함

시 뿐 아니라 작가는 검소함을 바탕으로 한 단편을 많이 발표했다. 그 예로서 Jawa Pos에 게재된 “둘로 율법사의 모자”(Kopiah Kiai Dulloh)를 들 수 있는데 작품에서 작가는 많은 메시지가 담긴 이야기를 하고 있다. 그 내용은 못된 성격 때문에 고질병에 걸려 많은 사람들로부터 외면을 당하고 있는 한 사람이 있었다. 그런데 단 한 사람만이 그를 받아 드렸다. 그렇게 도움을 주려는 사람은 경제적으로 넉넉하지 못했다. 그는 선생님이면서 마을의 율법사였는데 빈한하게 사는 사람이었다. 그러나 그에게는 상대방을 가리지 않고 돕고자 하는 착한 심성이 있었다.  

 

또 다른 단편으로 검소함의 가치가 충만한 “순례”(Ziarah)를 들 수 있다. 그 내용은 주인공인 한 청년의 순례 여정을 그리고 있다. 여정 도중에 주인공은 한 늙은 남자를 만나게 된다. 그 늙은 남자는 주인공에게 하나의 길을 가리키면서 그 길을 따라 가기를 독려했다. 그 길은 검소한 장소로 가는 세상에서 가장 끝 지점에 있는 곳이었다. 이 단편이 말하고자 하는 메시지는 단순하다. 이야기에 등장하는 늙은 남자는 독자들에게 결국 인간이 돌아갈 곳은 좁고, 외로운 땅 속이라는 것을 암시하고 있다. 그것이 인간의 여정 마지막임을 말하고자 하는 것이다.

 

파이즈 작품을 많이 읽을수록 독자들은 삶 속의 다양한 검소함을 알게 된다. 우리에게서 가장 가까이 있는 것부터 멀리 있는 것까지 그리고 잊혀진 것까지 그의 작품에 그려져 있다. *****

 

 

LAKU SEDERHANA DALAM KARYA SASTRA FAIZ ADITTIAN AHYAR

 

 

                                                                                                                                           oleh : Bagus Sulistio

 

Profesi menjadi sastrawan bukanlah profesi yang menjanjikan. Privilege (dalam hal harta) sastrawan tidak lebih unggul dari seorang pegawai bank, manajer sebuah perusahaan bahkan petani sekalipun. Tidak ada yang bisa mematok pemasukan seorang sastrawan tiap bulannya secara pasti. Apalagi sastrawan yang hanya menggantungkan hidupnya dari honor menulis pada sebuah media massa.

 

Keberuntungan mungkin bisa berpihak pada sastrawan yang masih sempat diundang untuk mengisi seminar. Begitu juga sastrawan yang bukunya masih berada di tahap best seller. Selain itu, mereka yang hidup berprofesi menjadi sastrawan murni tanpa mengisi seminar dan bukunya best seller tidak lebih kaya dari siapapun. Sebagian besar mereka menjadi masyarakat berekonomi menengah ke bawah.

 

Memang patut jika profesi sastrawan dianggap menjadi profesi yang "miskin" dengan mengacu alasan di atas. Kendati demikian, masih banyak orang yang tertarik melegitimasi dirinya sebagai seorang sastrawan. Alih-alih melegitimasi diri menjadi pengusaha, pegawai negeri, dan sejenisnya, mereka sangat berbangga diri melegitimasi menjadi seorang sastrawan.

 

Tidak ada yang melarang seseorang melegitimasi dirinya sendiri menjadi seorang sastrawan. Selagi menulis dan mempunyai karya sastra, orang tersebut berhak melegitimasi dirinya sendiri menjadi sastrawan. Masalah sastrawan lain menerimanya dan mengakuinya sebagai sastrawan sungguhan itu adalah hal belakangan.

 

Sebenarnya tanpa seorang penulis melegitimasi dirinya sendiri menjadi sastrawan, jika mereka istiqomah dalam bersastra maka orang lain akan mengakuinya. Orang-orang akan mudah mengakuinya sastrawan jika karya-karyanya terus terlahir dengan baik secara kualitas dan kuantitas. Seperti kita perlu mengakui bahwa Faiz Adittian Ahyar adalah seorang sastrawan.

 

Faiz Adittian Ahyar merupakan sastrawan muda yang berasal dari Banyumas. Ia menulis berbagai jenis karya sastra mulai dari puisi hingga cerpen. Karyanya banyak dijumpai di media massa. Dari setiap karya yang ia tulis baik puisi maupun cerpen mempunyai makna.

 

Nilai Kesederhanaan dalam Puisi Faiz Adittian Ahyar

Faiz mengawali dunia sastranya dengan berpuisi. Beberapa genre dan tema puisi yang ia tulis sudah banyak dimuat di media massa. Dari puisi-puisi yang ditulisnya, mayoritas menggambarkan kesederhanaan hidup. Seperti pada bait kedua puisi Faiz yang berjudul "Setelah Pemilu":

....

Jalan begitu haru meratapi lobang

Sungai begitu sibuk mensiasati banjir

Orang-orang terpinggir

Gubuk ramai

Kepul asap

Celana kolor hampir sobek

Dan sepasang itik

Yang habis bertelur

Tujuh namun

Sama sekali tak menetas

...

Kepelikan dunia dan kesederhanaan hidup begitu tergambar dalam setiap baris puisi. Tidak ada kata dan pemilihan diksi untuk menggambarkan kemegahan dan kemewahan. Nuansa orang-orang yang termarginalkan oleh kekayaan harta begitu pekat dalam bait tersebut. Faiz nampaknya ingin membawa kita menilik dunia yang begitu sederhana. Gubuk ramai dan celana kolor hampir sobek merupakan manifestasi manusia-manusia yang hidup berlandaskan nilai-nilai sufisme. Dimana seorang yang mengikat diri pada sufisme identik dengan kesederhanaan hidup.

 

Pada puisi lainnya yang berjudul "Orang-orang Desa", Faiz juga menyajikan puisi dengan tema kesederhanaan yang begitu gamblang. Kita dapat menafsirkan dengan cukup mudah setelah membacanya.

....

rumah-rumah dengan kebun singkong di halaman belakang

rumah-rumah berpagar bambu

rumah dengan burung perkutut di beranda depan

tak sama seperti rumah-rumah orang-orang kota

rumah yang terlampau tumbuh tinggi

tak punya atap

tak punya kebun

tak punya pagar apa lagi burung perkutut di beranda depan

memang kami orang-orang desa

yang begitu hidup sederhana

tersebab itu, kami hanya bangun

rumah-rumah tanpa habis banyak biaya

Pasir Luhur, Agustus 2015

 

Kesederhanaan bukan berarti sebuah kesialan, hal yang perlu dijauhi. Dalam kesederhanaan itu terdapat sisi-sisi positif yang dapat diambil. Dalam puisi "Orang-orang Desa" sudah digambarkan bahwa banyak kenikmatan yang perlu disyukuri. rumah-rumah tanpa habis banyak biaya merupakan salah satu kalimat yang menjelaskan sisi positif dari kesederhanaan.

 

Setelah membaca puisi-puisi Faiz Adittian Ahyar, kesederhanaan bukan hal yang diberikan oleh Tuhan. Kesederhanaan merupakan pilihan hidup seorang manusia. Setiap orang berhak memilih kehidupan yang sederhana atau foya-foya, membangun rumah berpagar bambu namun bersedekah ke tetangga atau rumah bertingkat namun tak peduli tetangga. Semua pilihan untuk tindak laku sederhana ada di tangan setiap manusia.

 

Nilai Kesederhanaan dalam Cerpen Faiz Adittian Ahyar

Tidak hanya sampai di puisi saja, sastrawan ini juga menulis cerpen-cerpennya dengan nuansa kesederhanaan. Cerpen berjudul "Kopiah Kiai Dulloh" yang dimuat di Jawa Pos merupakan cerita yang memuat banyak pesan. Seseorang yang berperangai buruk lalu mengidap penyakit menjijikkan selalu ditolak oleh masyarakat. Namun hanya satu orang yang bisa menerimanya dan ngajeni sangat antagonis. Orang yang baik kepada tokoh antagonis merupakan tokoh yang memiliki keterbatasan finansial. Ia adalah seorang guru ngaji atau kiai desa yang kehidupan duniawinya tidak terlalu mewah. Namun ada hal yang lebih kaya yaitu sifat tolong menolong tanpa memandang bulu.

 

Cerita lain penuh nilai kesederhanaan yang ditulis Faiz berjudul "Ziarah". Kisah ini menceritakan seorang pemuda yang melakukan perjalanan duniawi. Di tengah perjalanan, ia bertemu seseorang pria tua dimana pria tua tersebut menuntun sang pemuda ke sebuah jalan. Menuju tempat sederhana dan perpulangan paling terakhir di dunia. Pesan dalam cerpen begitu mengena. Tokoh pria tua mengajarkan pembaca perihal puncak perpulangan yang sederhana berupa ruang bawah tanah sempit dan sepi. Begitulah esensi dari akhir perjalanan hidup manusia.

 

Semakin banyak membaca karya Faiz, kita akan mengenal berbagai bentuk kesederhanaan hidup. Mulai hal yang paling dekat dengan kita, hingga hal yang jauh dan terabaikan akan digambarkan lewat karya-karyanya. *****

 

 

(인니어 번역 : 김영수/Diterjemahkan oleh Kim Young Soo)

 

 

[수필가 소개]

바구스 술리스띠오, 2000 8 16, 인도네시아 반자르느가라(Banjarnegara)에서 출생. 뿌르오꺼르또(Purwokerto) 까랑수치(Karangsuci) -히다야(al-Hidayah) 이슬람 기숙사에 거주. 현재 IAIN Purwokerto 대학교 아랍어교육과에 재학 중이며 SKSP 회원임. 반자르느가라(Banjarnegara) 문학단체 부회장이며 KPBJ 회원임. 작품 다수가 시집, 단편집에 실렸고 몇몇 매체를 통해 소개 되었음

 

 

 

[Tentang Penulis]

Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Pondok Pesantren al-Hidayah, Karangsuci, Purwokerto. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan mentor kepenulisan cerpen di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Ia juga menjadi wakil ketua Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Banjarnegara dan anggota di KPBJ. Karyanya terdokumentasikan dalam beberapa antologi cerpen serta tersiar pada beberapa media. Nomor Hp/WA. 083126620440. Facebook : Bagus Sulistio.

다음검색
현재 게시글 추가 기능 열기
  • 북마크
  • 공유하기
  • 신고하기

댓글

댓글 리스트
맨위로

카페 검색

카페 검색어 입력폼